Proyek SPAM Rp150 Juta di Sampang Diduga Bermasalah: Warga Protes, Air Keruh–Bau, dan Dinilai Tak Layak Konsumsi
0 menit baca
Proyek SPAM Rp150 Juta di Sampang Diduga Bermasalah: Warga Protes, Air Keruh–Bau, dan Dinilai Tak Layak Konsumsi
Sampang||Saktehnews.com - Proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) berupa jaringan perpipaan di Dusun Malakah, Desa Komis, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, kini menuai sorotan tajam warga. Program yang digarap CV Setinggil Jaya dengan anggaran Rp150 juta dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sampang ini diduga tidak tepat sasaran dan belum menghasilkan air yang memenuhi standar kelayakan konsumsi.
Sejumlah warga menilai hasil proyek tersebut jauh dari harapan. Pantauan media serta data warga berupa hasil uji sederhana terhadap kondisi air memperlihatkan warna yang keruh, berbau, dan berpotensi tidak aman untuk digunakan sebagai air minum. Warga menegaskan bahwa kondisi tersebut telah berlangsung sejak awal pengoperasian dan belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Dalam wawancara pada Kamis (20/11/2025), beberapa warga Dusun Malakah yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku enggan menggunakan air SPAM tersebut. Mereka menyebutkan bahwa aliran air dari pipa pengeboran terlihat “keruh, licin, dan mengeluarkan aroma tidak sedap”.
Seorang warga, sebut saja A, menunjukkan dokumentasi saat mengambil air langsung dari pipa bor. “Begini kenyataannya, Pak Wartawan. Kalau pengeboran ini tidak dipindah atau diperbaiki, kami tidak akan menerima air SPAM ini. Airnya bau, keruh, bahkan untuk mandi atau mencuci piring pun tidak layak,” ujarnya dengan nada kesal.
Warga lain menambahkan bahwa mereka khawatir air tersebut dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi anak-anak dan keluarga. Kekhawatiran ini membuat sebagian masyarakat memilih tetap menggunakan sumber air tradisional meski harus menempuh jarak lebih jauh.
Kekecewaan warga mengarah pada dugaan bahwa proyek dikerjakan tanpa perhitungan matang, khususnya terkait kualitas sumber air yang digunakan. Salah seorang warga menyatakan bahwa mereka merasa seperti “dikorbankan” oleh pembangunan yang dinilai hanya mengejar penyelesaian fisik tanpa memastikan manfaatnya.
“Saya sebagai warga Dusun Malakah sangat kecewa. Kualitas airnya tidak dipikirkan. Seakan-akan proyek ini hanya asal jadi,” ujarnya.
Penelusuran awal media juga menemukan bahwa sumber pengeboran yang digunakan berada di lokasi yang menurut warga sejak lama dikenal memiliki kualitas air buruk. Namun tidak ada kejelasan apakah survei kelayakan sumber air (uji laboratorium, uji debit, atau uji kualitas bakteriologis) pernah dilakukan sebelum pembangunan.
Kini, masyarakat bersama media lokal meminta Dinas PUPR Sampang untuk turun kelapangan untuk meninjau langsung proyek sebesar Rp150 juta tersebut. Pihak media menilai bahwa sebelum proyek diresmikan, perlu ada pemeriksaan menyeluruh terkait: Kelayakan sumber air, Standardisasi kualitas air dan Proses pengerjaan serta pengawasannya.
Hingga berita ini dibuat, warga Dusun Malakah masih menolak menggunakan air SPAM dan menunggu respon resmi dari dinas terkait. Mereka berharap pemerintah daerah tidak hanya meresmikan proyek, tetapi melakukan evaluasi menyeluruh demi keamanan dan keselamatan warga.
Media saktehnews.com Sampang menyatakan akan terus mengikuti perkembangan kasus ini serta meminta pemerintah bertindak cepat sebelum air yang bermasalah tersebut menimbulkan dampak kesehatan nyata di masyarakat. (Faiz)


